Minggu, 25 Desember 2016

Tugas UAS Sirah Nabawiyah



MAKALAH
PERANG UHUD
Disusun Guna Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Sirah Nabawiyah
Dosen Pengampu: Imamul Huda, M. Pd.I.
 
Disusun Oleh :
Kelas I PAI
1. Retno Nugraheni Fatmawati (23010160301)
2. Ahmad Saidul Khasan (23010160286)
3. Thoifatun Najjariyah (230101310)
4. Ake Aulia Fitriana (23010160311)
5. Muhamad Mifthakhul Huda (23010160313)

 
Pendidikan Agama Islam
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Institut Agama Islam Negeri SALATIGA
2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT yang tak pernah berhenti melimpahkan rahmat dan hidayat-Nya hingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat serta salam semoga Allah curahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah memperjuangkan kedamaian sampai saat ini. karya tulis ini disusun untuk memenuhi tugas Ujian Akhir Semester mata kuliah Sirah Nabawiyah yang berkenaan dengan ‘Perang Uhuud’.
Ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah  meridhoi penulis hingga makalah ini selesai dengan baik. Tidak lupa penulis mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan dukungan baik materi maupun pikirannya.
Penulis berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan bagi para pembaca. Terutama pengetahuan tentang peristiwa sejarah peristiwa mengenai perang Uhud. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun dari rekan-rekan sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan makalah ini.

Salatiga, Desember 2016


Penulis



DAFTAR ISI
                                                                                                            Halaman
Kata Pengantar....................................................................................................i
Daftar Isi.............................................................................................................ii
Bab I               PENDAHULUAN......................................................................1
                        A. Latar Belakang.......................................................................1
                        B. Rumusan Masalah...................................................................2
                        C. Tujuan Penulisan......................................................................2
BAB II            PEMBAHASAN..........................................................................3
                        A. Beberapa Peristiwa Yang Terjadi Sebelum Perang Uhud...........3
                        B. Persiapan  Kaum Quraisy Sebelum Perang Uhud......................4
                        C. Persiapan Yang Dilakukan Pasukan Nabi Muhammad
Sebelum Perang Uhud..................................................................5
                        D. Meletusnya Perang Uhud.........................................................8
                        E. Peristiwa Setelah Berakhirnya Perang Uhud..............................10
BAB III          PENUTUP....................................................................................12
                        Kesimpulan..................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................14

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peristiwa Badar (624 M) berpengaruh besar tidak hanya terhadap kehidupan Muhammad dan kaum muslim. Tetapi, juga terhadap kalangan masyarakat Madinah secara umum. Sesudah perang Badar, golongan Yahudi, orang musyrik, dan kaum munafik merasakan kuatnya posisi dan daya tawar kaum muslimin di wilayah itu. Mereka melihat orang asing itu (Muhammad) belum genap dua tahun menetap di kota mereka, namun kekuatan dan kewibawaannya tumbuh makin besar dan kedudukannya pun bertambah kuat. Bahkan, ia hampir menjadi orang yang menguasai seluruh penduduk Madinah, bukan hanya kaum muslim.      
Perang Uhud merupakan perang yang terjadi setelah peristiwa perang Badar. Perang Badar dimenangkan oleh kaum Muslim. Dan  banyaknya korban dari pihak Quraisy yang tewas pada perang Badar, menyebabkan tersulutnya dendam yang mendalam dari kaum Quraisy. Jadi perang Uhud ini merupakan upaya kaum Quraisy untuk membalas rasa sakit hati yang telah merasuk dalam sanubarinya.
Perang Uhud terjadi pada tahun ke-3 Hijriah. Perang ini terjadi di kaki Gunung Uhud yang terletak di utara Madinah. Selain kaum Quraisy ingin menuntut balas dendam, tujuan mereka dalam perang ini juga dikarenakan adanya hasrat ingin menghancurkan Islam serta ingin membunuh Rasulullah. Pada perang ini kaum Quraisy membawa pasukan sebanyak 3000 orang sedangkan kaum Muslim yang tadinya berjumlah 1000 orang tersisa 700 orang karena adanya hasutan dari Abdullah bin Ubay.
Perang ini pada awalnya di menangkan oleh kaum Muslim. Tetapi, pasukan pemanah yang ditempatkan oleh Nabi di posnya meninggalkan kedudukannya lantaran silau dengan harta rampasan perang sebagaimana dilakukan oleh pasukan yang lain, yang berakibat fatal. Pasukan Khalid dapat memasuki  wilayah strategis tadi dan ganti memukul kaum Muslimin, sehingga kacau balaulah pasukan yang dipimpin oleh Nabi, yang akhirnya kaum Muslimin menderita kekalahan.
Selain itu, dalam perang Uhud ini terdapat suatu suatu peristiwa yang sangat menyesakkan hati Nabi Muhammad Saw. Yaitu, terbunuhnya paman Nabi dengan cara yang sangat tragis dan diperlakukan oleh Hindun secara biadab dan tidak sama sekali menampakkan sifat perikemanusiaan.

B. Rumusan Masalah
1. Peristiwa apa saja yang terjadi sebelum perang Uhud?
2. Persiapan apa saja yang dilakukan kaum Quraisy sebelum perang Uhud?
3. Persiapan apa saja yang dilakukan pasukan Nabi Muhammad sebelum perang Uhud?
4. Bagaimana peristiwa meletusnya perang Uhud?
5. Bagaimana peristiwa setelah berakhirnya perang Uhud? 
  
C. Tujuan Penulisan
1.  Untuk mengetahui peristiwa apa saja yang terjadi sebelum perang Uhud.
2. Untuk mengetahui persiapan apa saja yang dilakukan kaum Quraisy sebelum perang Uhud.
3. Untuk Mengetahui persiapan apa saja yang dilakukan pasukan Nabi Muhammad sebelum perang Uhud.
4. Untung mengetahui bagaimana peristiwa meletusnya perang Uhud.
5. Untuk mengetahui peristiwa setelah berakhirnya perang Uhud.  



BAB II
PEMBAHASAN

A. Beberapa Peristiwa Yang Terjadi Sebelum Perang Uhud
 Kemenangan kaum muslimin dalam perang Badar membuat kedengkian kaum Yahudi, orang musyrik, dan kaum munafik menjadi-jadi. Akan tetapi, mereka belum berani melancarkan permusuhan secara terang-terangan disebabkan oleh dua alasan. Pertama, karena kaum Yahudi terikat oleh perjanjian perdamaian untuk hidup secara damai dengan kaum muslimin. Kedua, mereka mengetahui dengan mata kepala mereka sendiri bahwa kaum muslimin dan Islam telah menjadi kekuatan nyata yang tak dapat diremehkan.[1]
Mengingat perjanjian tersebut, maka tidak ada jalan bagi kaum Yahudi untuk melancarkan permusuhan terbuka terhadap Islam dan kaum muslimin. Jalan satu-satunya yang masih dapat mereka tempuh ialah dengan cara sembunyi-sembunyi bekerjasama dengan kaum munafik membantu gerakan-gerakan balas dendam yang hendak dilancarkan oleh kaum Musyrikin Quraisy dari Makkah.[2] Beberapa peristiwa yang meletus sebelum perang Uhud membuktikan kebenaran semuanya itu.
Abu Sufyan telah bernadzar tidak akan memakai minyak wangi sebelum dapat menyerang kaum muslimin yang dalam perang Badar telah membunuh banyak gembong musyrikin Quraisy. Terdorong oleh semangat balas dendam dan untuk melaksanakan nadzar tersebut, ia keluar rumah dari Makkah membawa dua ratus orang bersenjata. Dengan menunggang unta mereka bergerak ke Madinah hendak melancarkan serangan terhadap kaum muslimin.
Sebelum itu ia telah mengadakan hubungan rahasia lebih dulu dengan pemimpin kabilah Yahudi Bani Nadhir yang bernama Salam bin Masykam. Kepadanya Abu Sufyan maminta dukungan dan bantuan disertai pesan supaya jangan membocorkan rencana serangannya itu kepada siapa pun. Salam bin Masykam menerima baik permintaan Abu Sufyan dan ia bahkan memberikan  makan-minum kepada gerombolan Abu Sufyan. Abu Sufyan melepas beberapa dari gerombolanya masuk ke kota Madinah di malam gelap gulita. Beberapa saat lamanya mereka berhasil membunuh dua orang Anshar, kemudian lari menghilang.
Rasulullah SAW bersama sejumlah sahabat langsung keluar dan mengejarnya, tetapi mereka sudah kabur lebih dulu dan kembali ke Makkah. Mereka tergesa-gesa lari meninggalkan bahan makanan yang sebagian besarnya terdiri dari tepung gandum (sawiq). Dalam sejarah Islam peristiwa tersebut dikenal dengan “Ghazwatu Sawiq”.
Rongrongan terhadap kaum muslimin juga dilakukan oleh gerombolan Yahudi. Seorang tokoh bernama Ka’ab bin Al-Asyraf giat melakukan provokatif mengganggu ketentraman Rasulullah Saw dan kaum muslimin. Ia mengubah syair yang menggambarkan keindahan tubuh wanita-wanita muslimat dan isteri para sahabat Nabi. Setelah perbuatannya mencapai tingkat yang tidak dapat ditoleransi, akhirnya sejumlah kaum Anshar bergerak melawan Ka’ab dan orang-orang Yahudi pengikutnya. Pada peristiwa tersebut, Ka’ab mati terbunuh.[3]

B. Persiapan  Kaum Quraisy Sebelum Perang Uhud
            Keluarga, kamu kerabat, dan handaitolan tokoh-tokoh Quraisy yang terbunuh dalam perang Badar sepakat hendak melancarkan serangan pembalasan terhadap kaum muslimin. Untuk persiapan perang kaum Quraisy menumpuk harta hartanya, tidak membelanjakannya lantaran biaya yang akan dikeluarkan tentunya besar untuk dapat mengalahkan musuh. Mereka khawatir kalau kalah lagi dalam perang ini, maka Abu Sufyan, pemimpin mereka mengumpulkan 3.000 orang pemanggul senjata di bawah pimpinan Thalhah bin Abi Thalhah yang terdiri dari berbagai suku, antara lain suku Arab Tihamah, Kinanah, Bani al-Haris, Bani al-Haun dan Bani al-Mustaliq.[4]
            Beberapa hari sebelum perang Uhud, Shafwan bin Umaiyyah mendatangi Izzah Al Jumahi. Ia adalah seorang tawanan yang dibebaskan oleh Rasulullah secara gratis karena ia miskin dan menanggung tanggung keluarga yang banyak.[5] Shafwan bin Umaiyyah meminta bantuan kepada Izzah Al-Jumahi dengan menjajikan akan membuat dirinya menjadi kaya dan jika ia terbunuh akan melindungi dan bertanggung jawab atas kehidupan keluarganya.
Akhirnya Abu Izzah Al-Jumahi berangkat dalam rombongan orang-orang Tihamah dan mengajak orang-orang Bani Kinanah.[6] Pasukan mereka juga dilengkapi dengan 200 pasukan berkuda dan 3.000 unta, 700 di antaranya memakai baju besi.
            Selain itu, Jubair bin Al-Muth’im memanggil budak hitamnya. Wahsyi, seorang ahli melempar tombak asal Habasyah dengan lemparan yang jarang sekali meleset dari sasaran.[7] Wahsyi di janjikan jika ia berhasil membunuh Hamzah, paman Nabi Muhammad sebagai pembalasan atas wafatnya paman Jubair bin Al- Muth’im maka ia akan menjadi orang bebas merdeka.
            Selain mengajak orang-orang dari Bani Kinanah dan orang-orang Bani Tihamah. Kaum Quraisy juga mengikut sertakan istri-istri mereka sebagai penjaga agar tidak ada seorang pun dari pasukan mereka yang melarikan diri saat perang berlangsung. 

C. Persiapan Yang Dilakukan Pasukan Nabi Muhammad SAW Sebelum Perang Uhud
            Abbas ibn Abdul Muthalib, paman Nabi yang berada di tengah persiapan kaum Quraisy memperhatikan dengan seksama dan teliti. Ia memang masih setia dengan agama nenek moyangnya. Namun, ia juga sangat mencintai dan menyayangi Nabi Muhammad Saw.
            Ketika mengetahui rencana kaum Quraisy akan berangkat dengan kekuatan besar, al-Abbas menulis surat untuk mengambarkan segala rencana, persiapan, dan perlengkapan mereka. Surat tersebut dititipkan kepada seorang dari kabilah Ghifar supaya disampaikan kepada Nabi. Utusan al-Abbas ini tiba di Madinah dalam waktu tiga hari dan ia langsung menyerahkan surat itu.[8]
            Setelah menerima surat dari pamannya, Nabi segera pulang ke Madinah dan langsung menemui Sa’d ibn al-Rabi di rumahnya. Ia mengatakan apa yang telah disampaikan al-Abbas kepadanya dan meminta Sa’d merahasiakannya. Namun, istri Sa’d yang sedang di rumah waktu itu mendengar percakapan mereka sehingga kabar tentang pasukan Quraisy itu tidak lagi menjadi rahasia.[9]
            Nabi menugaskan  dua orang anak Fudhalah, yaitu Anas dan Mu’nis untuk menyelidiki keadaan Quraisy. Kemudian melaporkan hasil pengamatan mereka dan ternyata pasukan Quraisy telah mendekati Madinah. Sementara, kuda dan unta mereka dilepaskan di padang rumput sekeliling Madinah.
            Malam itu, para pemuka kaum muslimin berjaga-jaga di masjid dengan senjata terhunus untuk menjaga keselamatan Nabi. Sepanjang malam itu seluruh sudut kota dijaga dengan ketat.
            Keesokan harinya, Muhammad meminta para pemimpin muslim dan juga pemimpin munafik berkumpul. Mereka berunding untuk menentukkan langkah yang harus diambil dalam menghadapi musuh. Muhammad SAW menyampaikan pendapat agar pasukan Madinah bertahan di dalam kota dan membiarkan pasukan Quraisy tetap di luar kota. Apabila mereka menyerbu memasuki kota, penduduk Madinah lebih mampu menangkis  dan mengalahkan mereka. Abdullah ibn Ubay ibn Salul mendukung pendapat Nabi itu.[10] Ia mengatakan bahwa biasa bertempur di tempat batu. Kota Madinah memiliki bangunan yang saling berjalin sehingga menjadi benteng dari segenap penjuru. Apabila musuh muncul, para wanita dan anak-anak akan melempari mereka dengan batu. Kaum laki-laki akan menghadapi mereka di jalan-jalan dengan pedang. Karena pendapat tersebut masuk akal dan sejalan dengan pemikiran Rasulullah, para pemuka kaum Muhajirin dan Anshar pun juga setuju.
            Namun, para pemuda yang bersemangat dan tidak ikut Perang Badar, juga orang yang ikut dalam perang Badar dengan hati penuh keyakinan bahwa tidak ada satu pun yang dapat mengalahkan mereka, memaksa Nabi agar menyambut musuh di luar kota. Mereka juga tidak mau jika kaum Quraisy menganggap mereka takut menghadapi musuh sehingga tidak mau keluar kota Madinah. Mereka juga beralasan bahwa mereka akan bertahan di pinggiran dan di dekat kota sehingga posisi mereka akan lebih kuat dibanding musuh.[11]
            Hingga pada akhirnya lebih banyak suara yang menginginkan peperangan diadakan di luar kota Madinah. Padahal, Nabi merasa khawatir jika kaum muslimin akan mengalami kekalahan. Tetapi, karena Nabi menghargai hasil musyawarah maka ia pun mengikuti suara terbanyak.
            Waktu itu adalah hari Jum’at dan Nabi mendirikan sholat secara berjama’ah. Kemudian beliau menyampaikan jika kaum muslim tabah, mereka akan menang. Setelah itu ia memerintahkan mereka bersiap-siap untuk menghadapi musuh. Kaum muslimin menyiapkan pasukan sebanyak 1000 orang. Namun, sepertiga dari pasukan itu ternyata kaum munafiq. Di bawah pimpinan Abdullah ibn Ubay, sebanyak 300 orang kembali ke Madinah tidak mau meneruskan perang dengan alasan usulnya untuk bertahan di dalam kota tidak diterima oleh kaum Muslimin, yang cenderung menyongsong musuh musuh di luar kota. Akhirnya, pasukan muslimin hanya tersisa 700 orang.

D. Meletusnya Perang Uhud
Perang uhud terjadi pada 15 Syawal 3 H atau hari Ahad, 31 Maret 625 M. Yang berlangsung di kaki Bukit Uhud yang terletak di sebelah utara kota Madinah.[12] Lima puluh orang pemanah yang handal di bawah pimpinan Abdullah ibn Jabir diletakkan oleh Nabi di tempat yang dapat dimasuki oleh pasukan musuh untuk memukul pasukan Islam dari belakang.
Sedangkan kaum Quraisy menyusun barisan dengan sayap kanan yang dipimpin Khalid ibn Walid, dan sayap kiri dipimpin oleh Ikrimah ibn Abi Thalhah. Sementara itu, para wanita Quraisy memukul tambur dan gendang sambil berjalan di tengah-tengah barisan.
Kemudian mulailah perang tanding satu lawan satu sebelum pertempuran massal terjadi. Keluarlah Thalhah ibn Abi Thalhah dari Quraisy yang dilawan oleh Ali ibn Abi Thalib dan terbunuhlah Thalhah. Disusul Usman, saudara Thalhah, yang mati terbunuh di tangan Hamzah. As’ad, saudara Thalhah yang lain keluar pula, namun nasib malang, ia terbunuh di tangan Ali ibn Abi Thalib. Satu lagi saudara Thalhah keluar, yakni Musami’ yang juga tewas terbunuh.
Setelah itu pertarungan sengit berkecamuk antara dua pasukan. Dalam pertarungan itu, tiga orang pahlawan muslimin memainkan peranan luar biasa. Mereka adalah Ali bin Abi Thalib, Abu Dujanah, dan Hamzah bin Abdul Mutholib. Hamzah dalam perang tersebut menerkam dan menerjang musuh laksana singa menyergap mangsanya. Akan tetapi, dalam pertarungan ini ia gugur sebagai pahlawan syahid akibat lemparan tombak dari arah yang tak diketahui dan gerangan yang melempar tombak tersebut adalah budak milik Jubair bin Muth’im yang bernama Wahsyi.
Namun, istri Abu Sufyan yang bernama Hindun belum percaya mendengar kabar gugurnya Hamzah. Ia bersama anak buahnya mencari-cari mayat Hamzah setelah pertempuran reda. Mereka bersuka ria memotongi telinga dan hidung jenazah yang ditemuinya untuk dijadikan permainan. Ketika melihat jenazah Hamzah tergeletak berlumuran darah, ia tertawa terbahak-bahak, berteriak histeris sambil menggaruk kepalanya hingga rambutnya terurai kusut, bagaikan keranjingan setan. Akhirnya, dengan mata terbelalak dan suara mengeram ia mengambil pisau yang terselip di pinggang lalu membelah perut Hamzah. Dengan nafsu setan ia mengeluarkan isi perutnya dan memotong hatinya lalu dikunyah hendak ditelan, tetapi tidak tertelan. Ia mengeluarkannya dari mulutnya sambil berteriak memaki-maki.[13]
            Pada awal pertempuran kaum Muslimin memperlihatkan kemenangannya. Tetapi, pasukan pemanah yang ditempatkan oleh Nabi di posnya tadi meninggalkan kedudukannya, mereka menduga peperangan telah berakhir. Mereka ingin segera mengambil barang-barang jarahan perang seperti yang dilakukan oleh teman-temannya di bawah. Abdullah bin Zubair, komandan mereka mengingatkan mereka akan perintah Rasulullah. Tetapi sebagian besar dari mereka tidak menghiraukan. Mereka malah khawatir jikalau tidak kebagiaan barang-barang jarahan. Mereka sibuk mengumpulkan barang-barang yang ditinggalkan pasukan musyrikin. Tidak ada lagi yang mereka pikirkan selain ingin memperoleh materi sebanyak mungkin.
            Tiba-tiba regu pasukan berkuda musyrikin Quraisy di bawah pimpinan Khalid bin Walid melancarkan serangan balasan dari arah belakang melalui lereng-lereng gunung yang ditinggalkan regu pemanah pasukan muslimin. Pasukan Quraisy yang tadinya telah terpukul mundur, kembali lagi ke medan tempur menghajar pasukan muslimin. Pasukan kaum muslimin pun hancur berantakan, bercerai-berai tak beraturan.
            Dalam keadaan itu pula, ada yang mengumumkan bahwasanya Muhammad SAW telah tewas. Mendengar hal itu, pasukan Quraisy semakin semangat menghajar kaum muslimin. Padahal yang terjadi tidak demikian. Ali berusaha sekuat tenaga melindungi Rasulullah. Dan di tengah peristiwa genting tersebut tiba-tiba sebuah batu besar yang dilemparkan pasukan musuh menenai wajah Rasulullah SAW hingga geraham beliau patah, dahinya luka-luka dan dua keping pecahan rantai besi yang dipakainya menembus pipinya. Ternyata yang melempar batu tersebut adalah Utbah bin Abi Waqqash.
            Namun Rasulullah SAW masih tetap dapat menguasai diri. dengan pengawasan sejumlah sahabat, baliau berhasil mengelak dari serangan musuh dan berjalan menuju sebuah tempat untuk beristirahat. Akan tetapi, sekonyong-konyong beliau terperosok ke dalam sebuah liang perangkap yang sengaja digali oleh musuh untuk menjerumuskan pasukan muslimin.[14] Dan pada akhirnya peperangan dimenangkan oleh pasukan Quraisy.

E. Peristiwa Setelah Berakhirnya Perang Uhud   
Abu Sufyan dan pasukan Quraisy telah pulang ke Makkah. Berita kemenangannya telah sampai lebih dahulu di Makkah. Sehingga saat mereka tiba disanana, semua penduduk menyambutnya dengan gagap gempita, penuh kegembiraan karena merasa telah berhasil menghapus kehinaan yang dialami oleh kaum Quraisy dalam perang Badar.
            Setibanya di Makkah Abu Sufyan langsung menuju Ka’bah, menyampaikan puji dan syukur kepada Hubal, dewa mereka yang terbesar. Ia juga mencukur rambut dan cambangnya, lalu pulang ke rumah sebagai orang yang sudah memenuhi janji bahwa ia tidak akan mendekati istrinya sebelum dapat mengalahkan Muhammad.[15]
            Sementara kaum muslim di Madinah masih dihinggapi rasa gelisah akibat kehancuran yang mereka alami di perang Uhud. Rasulullah segera mengambil langkah penting untuk menegakkan kembali kehormatan dan kedudukan mereka di Madinah. Pagi hari pertama di Madinah, Nabi Muhammad Saw memerintahkan  kaum muslim untuk mengejar pasukan Quraisy. Hal ini di tujukan kepada dunia bahwa kaum Muslimin belum habis, dan tidak begitu saja langsung menyerah kalah. Selama tiga hari mereka terus berjalan mengejar pasukan kaum Quraisy yang terus berpesta sepanjang jalan menuju Makkah. Namun, setelah menyampaikan tantangan untuk kembali berperang, pasukan Abu Sufyan itu memilih melanjutkan perjalanan pulang dan mengabaikan tantangan Muhammad. Mereka tidak mau kehilangan rasa sebagai pihak yang memenangi perang.
Sejak kaum Muslimin kalah dalam perang Uhud, keadaan di Madinah mengalami banyak perubahan. Beberapa pihak yang selama ini merongrong dan berusaha merebut kembali kuasa atas Madinah, berani merancang dan melakukan langkah-langkah untuk mencemarkan serta merendahkan Islam. Mereka yang sebelumnya merasa takut dan mau bekerja sama dengan kaum muslim kini berani menentang.



BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Kemenangan kaum muslimin dalam perang Badar membuat kedengkian kaum Yahudi, orang musyrik, dan kaum munafik menjadi-jadi. Akan tetapi, mereka belum berani melancarkan permusuhan secara terang-terangan disebabkan oleh oleh perjanjian perdamaian untuk hidup secara damai dengan kaum muslimin. Selain itu, Abu Sufyan melampiaskan kebenciannya dengan mengutus dua orang anak buahnya ke Madinah yang berhasil membunuh dua orang kaum Anshar.
2. Untuk persiapan perang kaum Quraisy menumpuk harta hartanya, tidak membelanjakannya lantaran biaya yang akan dikeluarkan tentunya besar untuk dapat mengalahkan musuh. Mereka khawatir kalau kalah lagi dalam perang ini, maka Abu Sufyan, pemimpin mereka mengumpulkan 3.000 orang pemanggul senjata di bawah pimpinan Thalhah bin Abi Thalhah. Selain itu, mereka memberikan iming-iming berupa harta dan kebebasan kepada Wahsyi budak Jubair, dan kepada Izzah Al-Jumahi agar ikut berpartisipasi dalam perang. Dan mereka juga menyertakan istri-istri mereka.
3. Pada awalnya Nabi menyarankan agar peperangan dilakukan di dalam kota Madinah. Akan tetapi, karena banyaknya pemuda yang semangat menginginkan perang diadakan di luar kota Madinah, akhirnya keputusan akhir perang pun akan dilaksanakan di luar kota Madinah.
4. Perang uhud terjadi pada 15 Syawal 3 H atau hari Ahad, 31 Maret 625 M. Yang berlangsung di kaki Bukit Uhud yang terletak di sebelah utara kota Madinah. Pasukan muslim yang terdiri dari 700 pasukan melawan musuh sebanyak 3000 orang. Pada babak awal peperangan dimenangkan oleh kaum muslim. Tetapi, karena pasukan pemanah silau akibat harta rampasan perang. Posisinya yang sebelumnya diambil alih oleh pasukan Quraisy. Sehingga, pasukan muslimin kacau balau dan mengalami kekalahan.
5. Penduduk Makkah menyambut dengan gagap gempita kemenangan kaum Quraisy di perang Uhud. Abu Sufyan yang merasa nadzarnya telah terpenuhi langsung menuju Ka’bah untuk menyampaikan puji syukur kepada dewanya. Penduduk Makkah menyambut dengan gagap gempita kemenangan kaum Quraisy di perang Uhud. Abu Sufyan yang merasa nadzarnya telah terpenuhi langsung menuju Ka’bah untuk menyampaikan puji syukur kepada dewanya. Selain itu, semenjak kaum Muslimin kalah dalam perang Uhud, keadaan di Madinah mengalami banyak perubahan. Beberapa pihak yang selama ini merongrong dan berusaha merebut kembali kuasa atas Madinah, berani merancang dan melakukan langkah-langkah untuk mencemarkan serta merendahkan Islam.






DAFTAR PUSTAKA
Al Husaini, Al Hamid. Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad SAW. Bandung: Pustaka Hidayah. 2011.
Mufrodi, Ali. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 1997.
Ishaq, Ibnu dan Ibnu Hisyam. Sirah Nabawiyah. Jakarta: AKBAR MEDIA. 2012.
Haekal, Muhammad Husain. Sejarah Hidup Muhammad. Mesir: Pustaka Akhlak. 2015.
 Al-Azizi, Abdul Syukur. Peradaban Islam. Jakarta: Saufa. 2014.



[1] . Al Hamid Al Husaini, Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad Saw, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2011), hlm. 671.
[2] . Ibid., hlm. 672.
[3] . Ibid., hlm. 673.
[4] . Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, (Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997),  hlm. 31.
[5] . Ibnu Ishaq dan Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, (Jakarta: AKBAR MEDIA, 2012), hlm. 486.
[6] . Ibid., hlm. 487.
[7] . Ibid., hlm. 487.
[8] . Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, (Mesir: Pustaka Akhlak, 2015), hlm. 435-436.
[9] . Ibid., hlm. 436.
[10] . Ibid., hlm. 437.
[11] . Ibid., hlm. 438.
[12] . Abdul Syukur al-Azizi, Peradaban Islam, (Jakarta: Saufa, 2014), hlm. 48.
[13] . Al Hamid Al Husaini, Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad SAW, (Bandung: Pustaka Hidayah, 2011), hlm. 678.
[14] . Ibid., hlm. 681.
[15] . Muhammad Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, (Mesir: Pustaka Akhlak, 2015), hlm. 461.
 






1 komentar:

  1. kunjungi blog yang ini juga ya..
    http://katahatisibungateratai.blogspot.co.id/2018/01/coloteh-malam-si-bunga-teratai.html

    BalasHapus