MAKALAH
PERANG UHUD
Disusun Guna Memenuhi Tugas Ujian Akhir Semester
Mata Kuliah Sirah Nabawiyah
Disusun Oleh :
Kelas I PAI
Kelas I PAI
1. Retno Nugraheni Fatmawati (23010160301)
2. Ahmad Saidul Khasan (23010160286)
3. Thoifatun Najjariyah (230101310)
4. Ake Aulia Fitriana (23010160311)
5. Muhamad Mifthakhul Huda (23010160313)
Pendidikan Agama Islam
Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan
Institut Agama Islam Negeri SALATIGA
2016
KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT yang tak pernah berhenti melimpahkan
rahmat dan hidayat-Nya hingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Sholawat
serta salam semoga Allah curahkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah
memperjuangkan kedamaian sampai saat ini. karya tulis ini disusun untuk
memenuhi tugas Ujian Akhir Semester mata kuliah Sirah Nabawiyah yang berkenaan
dengan ‘Perang Uhuud’.
Ucapan terima kasih penulis ucapkan kepada Allah SWT yang
telah meridhoi penulis hingga makalah
ini selesai dengan baik. Tidak lupa penulis mengucapkan banyak terima kasih
atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan memberikan dukungan
baik materi maupun pikirannya.
Penulis berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan bagi para
pembaca. Terutama pengetahuan tentang peristiwa sejarah peristiwa mengenai
perang Uhud. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna.
Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun dari rekan-rekan sangat
dibutuhkan untuk penyempurnaan makalah ini.
Salatiga, Desember 2016
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar....................................................................................................i
Daftar
Isi.............................................................................................................ii
Bab I PENDAHULUAN......................................................................1
A.
Latar Belakang.......................................................................1
B.
Rumusan Masalah...................................................................2
C. Tujuan
Penulisan......................................................................2
BAB II PEMBAHASAN..........................................................................3
A. Beberapa
Peristiwa Yang Terjadi Sebelum Perang Uhud...........3
B.
Persiapan Kaum Quraisy Sebelum Perang
Uhud......................4
C.
Persiapan Yang Dilakukan Pasukan Nabi Muhammad
Sebelum Perang
Uhud..................................................................5
D.
Meletusnya Perang Uhud.........................................................8
E.
Peristiwa Setelah Berakhirnya Perang Uhud..............................10
BAB III PENUTUP....................................................................................12
Kesimpulan..................................................................................12
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................14
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Peristiwa Badar (624 M) berpengaruh besar tidak hanya terhadap
kehidupan Muhammad dan kaum muslim. Tetapi, juga terhadap kalangan masyarakat
Madinah secara umum. Sesudah perang Badar, golongan Yahudi, orang musyrik, dan
kaum munafik merasakan kuatnya posisi dan daya tawar kaum muslimin di wilayah
itu. Mereka melihat orang asing itu (Muhammad) belum genap dua tahun menetap di
kota mereka, namun kekuatan dan kewibawaannya tumbuh makin besar dan
kedudukannya pun bertambah kuat. Bahkan, ia hampir menjadi orang yang menguasai
seluruh penduduk Madinah, bukan hanya kaum muslim.
Perang Uhud merupakan perang yang terjadi setelah peristiwa perang
Badar. Perang Badar dimenangkan oleh kaum Muslim. Dan banyaknya korban dari pihak Quraisy yang tewas
pada perang Badar, menyebabkan tersulutnya dendam yang mendalam dari kaum
Quraisy. Jadi perang Uhud ini merupakan upaya kaum Quraisy untuk membalas rasa
sakit hati yang telah merasuk dalam sanubarinya.
Perang Uhud terjadi pada tahun ke-3 Hijriah. Perang ini terjadi di
kaki Gunung Uhud yang terletak di utara Madinah. Selain kaum Quraisy ingin
menuntut balas dendam, tujuan mereka dalam perang ini juga dikarenakan adanya
hasrat ingin menghancurkan Islam serta ingin membunuh Rasulullah. Pada perang
ini kaum Quraisy membawa pasukan sebanyak 3000 orang sedangkan kaum Muslim yang
tadinya berjumlah 1000 orang tersisa 700 orang karena adanya hasutan dari
Abdullah bin Ubay.
Perang ini pada awalnya di menangkan oleh kaum Muslim. Tetapi,
pasukan pemanah yang ditempatkan oleh Nabi di posnya meninggalkan kedudukannya
lantaran silau dengan harta rampasan perang sebagaimana dilakukan oleh pasukan
yang lain, yang berakibat fatal. Pasukan Khalid dapat memasuki wilayah strategis tadi dan ganti memukul kaum
Muslimin, sehingga kacau balaulah pasukan yang dipimpin oleh Nabi, yang
akhirnya kaum Muslimin menderita kekalahan.
Selain itu, dalam perang Uhud ini terdapat suatu suatu peristiwa
yang sangat menyesakkan hati Nabi Muhammad Saw. Yaitu, terbunuhnya paman Nabi
dengan cara yang sangat tragis dan diperlakukan oleh Hindun secara biadab dan
tidak sama sekali menampakkan sifat perikemanusiaan.
B. Rumusan Masalah
1. Peristiwa apa saja yang terjadi sebelum perang Uhud?
2. Persiapan apa saja yang dilakukan kaum Quraisy sebelum perang
Uhud?
3. Persiapan apa saja yang dilakukan pasukan Nabi Muhammad
sebelum perang Uhud?
4. Bagaimana peristiwa meletusnya perang Uhud?
5. Bagaimana peristiwa setelah berakhirnya perang Uhud?
C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui
peristiwa apa saja yang terjadi sebelum perang Uhud.
2. Untuk mengetahui persiapan apa saja yang dilakukan kaum Quraisy
sebelum perang Uhud.
3. Untuk Mengetahui persiapan apa saja yang dilakukan
pasukan Nabi Muhammad sebelum perang Uhud.
4. Untung mengetahui bagaimana peristiwa meletusnya perang
Uhud.
5. Untuk mengetahui peristiwa setelah berakhirnya perang Uhud.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Beberapa Peristiwa Yang Terjadi Sebelum Perang Uhud
Kemenangan kaum muslimin
dalam perang Badar membuat kedengkian kaum Yahudi, orang musyrik, dan kaum
munafik menjadi-jadi. Akan tetapi, mereka belum berani melancarkan permusuhan
secara terang-terangan disebabkan oleh dua alasan. Pertama, karena kaum Yahudi
terikat oleh perjanjian perdamaian untuk hidup secara damai dengan kaum
muslimin. Kedua, mereka mengetahui dengan mata kepala mereka sendiri bahwa kaum
muslimin dan Islam telah menjadi kekuatan nyata yang tak dapat diremehkan.[1]
Mengingat perjanjian tersebut, maka tidak ada jalan bagi kaum
Yahudi untuk melancarkan permusuhan terbuka terhadap Islam dan kaum muslimin.
Jalan satu-satunya yang masih dapat mereka tempuh ialah dengan cara
sembunyi-sembunyi bekerjasama dengan kaum munafik membantu gerakan-gerakan
balas dendam yang hendak dilancarkan oleh kaum Musyrikin Quraisy dari Makkah.[2]
Beberapa peristiwa yang meletus sebelum perang Uhud membuktikan kebenaran
semuanya itu.
Abu Sufyan telah bernadzar tidak akan memakai minyak wangi sebelum
dapat menyerang kaum muslimin yang dalam perang Badar telah membunuh banyak gembong
musyrikin Quraisy. Terdorong oleh semangat balas dendam dan untuk melaksanakan
nadzar tersebut, ia keluar rumah dari Makkah membawa dua ratus orang
bersenjata. Dengan menunggang unta mereka bergerak ke Madinah hendak
melancarkan serangan terhadap kaum muslimin.
Sebelum itu ia telah mengadakan hubungan rahasia lebih dulu dengan
pemimpin kabilah Yahudi Bani Nadhir yang bernama Salam bin Masykam. Kepadanya
Abu Sufyan maminta dukungan dan bantuan disertai pesan supaya jangan
membocorkan rencana serangannya itu kepada siapa pun. Salam bin Masykam
menerima baik permintaan Abu Sufyan dan ia bahkan memberikan makan-minum kepada gerombolan Abu Sufyan. Abu
Sufyan melepas beberapa dari gerombolanya masuk ke kota Madinah di malam gelap
gulita. Beberapa saat lamanya mereka berhasil membunuh dua orang Anshar, kemudian
lari menghilang.
Rasulullah SAW bersama sejumlah sahabat langsung keluar dan
mengejarnya, tetapi mereka sudah kabur lebih dulu dan kembali ke Makkah. Mereka
tergesa-gesa lari meninggalkan bahan makanan yang sebagian besarnya terdiri
dari tepung gandum (sawiq). Dalam sejarah Islam peristiwa tersebut dikenal
dengan “Ghazwatu Sawiq”.
Rongrongan terhadap kaum muslimin juga dilakukan oleh gerombolan
Yahudi. Seorang tokoh bernama Ka’ab bin Al-Asyraf giat melakukan provokatif
mengganggu ketentraman Rasulullah Saw dan kaum muslimin. Ia mengubah syair yang
menggambarkan keindahan tubuh wanita-wanita muslimat dan isteri para sahabat
Nabi. Setelah perbuatannya mencapai tingkat yang tidak dapat ditoleransi,
akhirnya sejumlah kaum Anshar bergerak melawan Ka’ab dan orang-orang Yahudi
pengikutnya. Pada peristiwa tersebut, Ka’ab mati terbunuh.[3]
B. Persiapan Kaum Quraisy
Sebelum Perang Uhud
Keluarga, kamu
kerabat, dan handaitolan tokoh-tokoh Quraisy yang terbunuh dalam perang Badar
sepakat hendak melancarkan serangan pembalasan terhadap kaum muslimin. Untuk
persiapan perang kaum Quraisy menumpuk harta hartanya, tidak membelanjakannya
lantaran biaya yang akan dikeluarkan tentunya besar untuk dapat mengalahkan
musuh. Mereka khawatir kalau kalah lagi dalam perang ini, maka Abu Sufyan,
pemimpin mereka mengumpulkan 3.000 orang pemanggul senjata di bawah pimpinan
Thalhah bin Abi Thalhah yang terdiri dari berbagai suku, antara lain suku Arab
Tihamah, Kinanah, Bani al-Haris, Bani al-Haun dan Bani al-Mustaliq.[4]
Beberapa hari
sebelum perang Uhud, Shafwan bin Umaiyyah mendatangi Izzah Al Jumahi. Ia adalah
seorang tawanan yang dibebaskan oleh Rasulullah secara gratis karena ia miskin
dan menanggung tanggung keluarga yang banyak.[5]
Shafwan bin Umaiyyah meminta bantuan kepada Izzah Al-Jumahi dengan menjajikan
akan membuat dirinya menjadi kaya dan jika ia terbunuh akan melindungi dan
bertanggung jawab atas kehidupan keluarganya.
Akhirnya Abu Izzah Al-Jumahi berangkat dalam rombongan orang-orang
Tihamah dan mengajak orang-orang Bani Kinanah.[6]
Pasukan mereka juga dilengkapi dengan 200 pasukan berkuda dan 3.000 unta, 700
di antaranya memakai baju besi.
Selain itu, Jubair
bin Al-Muth’im memanggil budak hitamnya. Wahsyi, seorang ahli melempar tombak
asal Habasyah dengan lemparan yang jarang sekali meleset dari sasaran.[7]
Wahsyi di janjikan jika ia berhasil membunuh Hamzah, paman Nabi Muhammad
sebagai pembalasan atas wafatnya paman Jubair bin Al- Muth’im maka ia akan
menjadi orang bebas merdeka.
Selain mengajak orang-orang
dari Bani Kinanah dan orang-orang Bani Tihamah. Kaum Quraisy juga mengikut
sertakan istri-istri mereka sebagai penjaga agar tidak ada seorang pun dari
pasukan mereka yang melarikan diri saat perang berlangsung.
C. Persiapan Yang Dilakukan Pasukan Nabi Muhammad SAW Sebelum
Perang Uhud
Abbas ibn Abdul Muthalib,
paman Nabi yang berada di tengah persiapan kaum Quraisy memperhatikan dengan
seksama dan teliti. Ia memang masih setia dengan agama nenek moyangnya. Namun,
ia juga sangat mencintai dan menyayangi Nabi Muhammad Saw.
Ketika mengetahui
rencana kaum Quraisy akan berangkat dengan kekuatan besar, al-Abbas menulis
surat untuk mengambarkan segala rencana, persiapan, dan perlengkapan mereka.
Surat tersebut dititipkan kepada seorang dari kabilah Ghifar supaya disampaikan
kepada Nabi. Utusan al-Abbas ini tiba di Madinah dalam waktu tiga hari dan ia
langsung menyerahkan surat itu.[8]
Setelah menerima
surat dari pamannya, Nabi segera pulang ke Madinah dan langsung menemui Sa’d
ibn al-Rabi di rumahnya. Ia mengatakan apa yang telah disampaikan al-Abbas
kepadanya dan meminta Sa’d merahasiakannya. Namun, istri Sa’d yang sedang di
rumah waktu itu mendengar percakapan mereka sehingga kabar tentang pasukan
Quraisy itu tidak lagi menjadi rahasia.[9]
Nabi
menugaskan dua orang anak Fudhalah, yaitu
Anas dan Mu’nis untuk menyelidiki keadaan Quraisy. Kemudian melaporkan hasil
pengamatan mereka dan ternyata pasukan Quraisy telah mendekati Madinah.
Sementara, kuda dan unta mereka dilepaskan di padang rumput sekeliling Madinah.
Malam itu, para
pemuka kaum muslimin berjaga-jaga di masjid dengan senjata terhunus untuk
menjaga keselamatan Nabi. Sepanjang malam itu seluruh sudut kota dijaga dengan
ketat.
Keesokan harinya,
Muhammad meminta para pemimpin muslim dan juga pemimpin munafik berkumpul.
Mereka berunding untuk menentukkan langkah yang harus diambil dalam menghadapi
musuh. Muhammad SAW menyampaikan pendapat agar pasukan Madinah bertahan di
dalam kota dan membiarkan pasukan Quraisy tetap di luar kota. Apabila mereka
menyerbu memasuki kota, penduduk Madinah lebih mampu menangkis dan mengalahkan mereka. Abdullah ibn Ubay ibn
Salul mendukung pendapat Nabi itu.[10]
Ia mengatakan bahwa biasa bertempur di tempat batu. Kota Madinah memiliki
bangunan yang saling berjalin sehingga menjadi benteng dari segenap penjuru.
Apabila musuh muncul, para wanita dan anak-anak akan melempari mereka dengan batu.
Kaum laki-laki akan menghadapi mereka di jalan-jalan dengan pedang. Karena
pendapat tersebut masuk akal dan sejalan dengan pemikiran Rasulullah, para
pemuka kaum Muhajirin dan Anshar pun juga setuju.
Namun, para pemuda
yang bersemangat dan tidak ikut Perang Badar, juga orang yang ikut dalam perang
Badar dengan hati penuh keyakinan bahwa tidak ada satu pun yang dapat mengalahkan
mereka, memaksa Nabi agar menyambut musuh di luar kota. Mereka juga tidak mau
jika kaum Quraisy menganggap mereka takut menghadapi musuh sehingga tidak mau
keluar kota Madinah. Mereka juga beralasan bahwa mereka akan bertahan di
pinggiran dan di dekat kota sehingga posisi mereka akan lebih kuat dibanding
musuh.[11]
Hingga pada akhirnya
lebih banyak suara yang menginginkan peperangan diadakan di luar kota Madinah.
Padahal, Nabi merasa khawatir jika kaum muslimin akan mengalami kekalahan.
Tetapi, karena Nabi menghargai hasil musyawarah maka ia pun mengikuti suara
terbanyak.
Waktu itu adalah
hari Jum’at dan Nabi mendirikan sholat secara berjama’ah. Kemudian beliau
menyampaikan jika kaum muslim tabah, mereka akan menang. Setelah itu ia
memerintahkan mereka bersiap-siap untuk menghadapi musuh. Kaum muslimin
menyiapkan pasukan sebanyak 1000 orang. Namun, sepertiga dari pasukan itu
ternyata kaum munafiq. Di bawah pimpinan Abdullah ibn Ubay, sebanyak 300 orang kembali
ke Madinah tidak mau meneruskan perang dengan alasan usulnya untuk bertahan di
dalam kota tidak diterima oleh kaum Muslimin, yang cenderung menyongsong musuh
musuh di luar kota. Akhirnya, pasukan muslimin hanya tersisa 700 orang.
D. Meletusnya Perang Uhud
Perang uhud terjadi pada 15 Syawal 3 H atau hari Ahad, 31 Maret 625
M. Yang berlangsung di kaki Bukit Uhud yang terletak di sebelah utara kota
Madinah.[12]
Lima puluh orang pemanah yang handal di bawah pimpinan Abdullah ibn Jabir
diletakkan oleh Nabi di tempat yang dapat dimasuki oleh pasukan musuh untuk
memukul pasukan Islam dari belakang.
Sedangkan kaum Quraisy menyusun barisan dengan sayap kanan yang
dipimpin Khalid ibn Walid, dan sayap kiri dipimpin oleh Ikrimah ibn Abi
Thalhah. Sementara itu, para wanita Quraisy memukul tambur dan gendang sambil
berjalan di tengah-tengah barisan.
Kemudian mulailah perang tanding satu lawan satu sebelum
pertempuran massal terjadi. Keluarlah Thalhah ibn Abi Thalhah dari Quraisy yang
dilawan oleh Ali ibn Abi Thalib dan terbunuhlah Thalhah. Disusul Usman, saudara
Thalhah, yang mati terbunuh di tangan Hamzah. As’ad, saudara Thalhah yang lain
keluar pula, namun nasib malang, ia terbunuh di tangan Ali ibn Abi Thalib. Satu
lagi saudara Thalhah keluar, yakni Musami’ yang juga tewas terbunuh.
Setelah itu pertarungan sengit berkecamuk antara dua pasukan. Dalam
pertarungan itu, tiga orang pahlawan muslimin memainkan peranan luar biasa.
Mereka adalah Ali bin Abi Thalib, Abu Dujanah, dan Hamzah bin Abdul Mutholib.
Hamzah dalam perang tersebut menerkam dan menerjang musuh laksana singa
menyergap mangsanya. Akan tetapi, dalam pertarungan ini ia gugur sebagai
pahlawan syahid akibat lemparan tombak dari arah yang tak diketahui dan
gerangan yang melempar tombak tersebut adalah budak milik Jubair bin Muth’im
yang bernama Wahsyi.
Namun, istri Abu Sufyan yang bernama Hindun belum percaya mendengar
kabar gugurnya Hamzah. Ia bersama anak buahnya mencari-cari mayat Hamzah
setelah pertempuran reda. Mereka bersuka ria memotongi telinga dan hidung
jenazah yang ditemuinya untuk dijadikan permainan. Ketika melihat jenazah
Hamzah tergeletak berlumuran darah, ia tertawa terbahak-bahak, berteriak
histeris sambil menggaruk kepalanya hingga rambutnya terurai kusut, bagaikan
keranjingan setan. Akhirnya, dengan mata terbelalak dan suara mengeram ia
mengambil pisau yang terselip di pinggang lalu membelah perut Hamzah. Dengan
nafsu setan ia mengeluarkan isi perutnya dan memotong hatinya lalu dikunyah
hendak ditelan, tetapi tidak tertelan. Ia mengeluarkannya dari mulutnya sambil
berteriak memaki-maki.[13]
Pada awal
pertempuran kaum Muslimin memperlihatkan kemenangannya. Tetapi, pasukan pemanah
yang ditempatkan oleh Nabi di posnya tadi meninggalkan kedudukannya, mereka
menduga peperangan telah berakhir. Mereka ingin segera mengambil barang-barang
jarahan perang seperti yang dilakukan oleh teman-temannya di bawah. Abdullah
bin Zubair, komandan mereka mengingatkan mereka akan perintah Rasulullah. Tetapi
sebagian besar dari mereka tidak menghiraukan. Mereka malah khawatir jikalau
tidak kebagiaan barang-barang jarahan. Mereka sibuk mengumpulkan barang-barang
yang ditinggalkan pasukan musyrikin. Tidak ada lagi yang mereka pikirkan selain
ingin memperoleh materi sebanyak mungkin.
Tiba-tiba regu
pasukan berkuda musyrikin Quraisy di bawah pimpinan Khalid bin Walid
melancarkan serangan balasan dari arah belakang melalui lereng-lereng gunung
yang ditinggalkan regu pemanah pasukan muslimin. Pasukan Quraisy yang tadinya
telah terpukul mundur, kembali lagi ke medan tempur menghajar pasukan muslimin.
Pasukan kaum muslimin pun hancur berantakan, bercerai-berai tak beraturan.
Dalam keadaan itu
pula, ada yang mengumumkan bahwasanya Muhammad SAW telah tewas. Mendengar hal
itu, pasukan Quraisy semakin semangat menghajar kaum muslimin. Padahal yang
terjadi tidak demikian. Ali berusaha sekuat tenaga melindungi Rasulullah. Dan
di tengah peristiwa genting tersebut tiba-tiba sebuah batu besar yang
dilemparkan pasukan musuh menenai wajah Rasulullah SAW hingga geraham beliau
patah, dahinya luka-luka dan dua keping pecahan rantai besi yang dipakainya
menembus pipinya. Ternyata yang melempar batu tersebut adalah Utbah bin Abi
Waqqash.
Namun Rasulullah
SAW masih tetap dapat menguasai diri. dengan pengawasan sejumlah sahabat,
baliau berhasil mengelak dari serangan musuh dan berjalan menuju sebuah tempat
untuk beristirahat. Akan tetapi, sekonyong-konyong beliau terperosok ke dalam sebuah
liang perangkap yang sengaja digali oleh musuh untuk menjerumuskan pasukan
muslimin.[14]
Dan pada akhirnya peperangan dimenangkan oleh pasukan Quraisy.
E. Peristiwa Setelah Berakhirnya Perang Uhud
Abu Sufyan dan pasukan Quraisy telah pulang ke Makkah. Berita
kemenangannya telah sampai lebih dahulu di Makkah. Sehingga saat mereka tiba
disanana, semua penduduk menyambutnya dengan gagap gempita, penuh kegembiraan
karena merasa telah berhasil menghapus kehinaan yang dialami oleh kaum Quraisy
dalam perang Badar.
Setibanya di
Makkah Abu Sufyan langsung menuju Ka’bah, menyampaikan puji dan syukur kepada
Hubal, dewa mereka yang terbesar. Ia juga mencukur rambut dan cambangnya, lalu
pulang ke rumah sebagai orang yang sudah memenuhi janji bahwa ia tidak akan
mendekati istrinya sebelum dapat mengalahkan Muhammad.[15]
Sementara kaum
muslim di Madinah masih dihinggapi rasa gelisah akibat kehancuran yang mereka
alami di perang Uhud. Rasulullah segera mengambil langkah penting untuk
menegakkan kembali kehormatan dan kedudukan mereka di Madinah. Pagi hari
pertama di Madinah, Nabi Muhammad Saw memerintahkan kaum muslim untuk mengejar pasukan Quraisy.
Hal ini di tujukan kepada dunia bahwa kaum Muslimin belum habis, dan tidak
begitu saja langsung menyerah kalah. Selama tiga hari mereka terus berjalan
mengejar pasukan kaum Quraisy yang terus berpesta sepanjang jalan menuju
Makkah. Namun, setelah menyampaikan tantangan untuk kembali berperang, pasukan
Abu Sufyan itu memilih melanjutkan perjalanan pulang dan mengabaikan tantangan
Muhammad. Mereka tidak mau kehilangan rasa sebagai pihak yang memenangi perang.
Sejak kaum Muslimin kalah dalam perang Uhud, keadaan di Madinah
mengalami banyak perubahan. Beberapa pihak yang selama ini merongrong dan
berusaha merebut kembali kuasa atas Madinah, berani merancang dan melakukan
langkah-langkah untuk mencemarkan serta merendahkan Islam. Mereka yang
sebelumnya merasa takut dan mau bekerja sama dengan kaum muslim kini berani
menentang.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Kemenangan kaum muslimin dalam perang Badar membuat kedengkian
kaum Yahudi, orang musyrik, dan kaum munafik menjadi-jadi. Akan tetapi, mereka
belum berani melancarkan permusuhan secara terang-terangan disebabkan oleh oleh
perjanjian perdamaian untuk hidup secara damai dengan kaum muslimin. Selain
itu, Abu Sufyan melampiaskan kebenciannya dengan mengutus dua orang anak
buahnya ke Madinah yang berhasil membunuh dua orang kaum Anshar.
2. Untuk persiapan perang kaum Quraisy menumpuk harta hartanya,
tidak membelanjakannya lantaran biaya yang akan dikeluarkan tentunya besar
untuk dapat mengalahkan musuh. Mereka khawatir kalau kalah lagi dalam perang
ini, maka Abu Sufyan, pemimpin mereka mengumpulkan 3.000 orang pemanggul
senjata di bawah pimpinan Thalhah bin Abi Thalhah. Selain itu, mereka
memberikan iming-iming berupa harta dan kebebasan kepada Wahsyi budak Jubair,
dan kepada Izzah Al-Jumahi agar ikut berpartisipasi dalam perang. Dan mereka
juga menyertakan istri-istri mereka.
3. Pada awalnya Nabi menyarankan agar peperangan dilakukan di dalam
kota Madinah. Akan tetapi, karena banyaknya pemuda yang semangat menginginkan
perang diadakan di luar kota Madinah, akhirnya keputusan akhir perang pun akan
dilaksanakan di luar kota Madinah.
4. Perang uhud terjadi pada 15 Syawal 3 H atau hari Ahad, 31 Maret
625 M. Yang berlangsung di kaki Bukit Uhud yang terletak di sebelah utara kota
Madinah. Pasukan muslim yang terdiri dari 700 pasukan melawan musuh sebanyak
3000 orang. Pada babak awal peperangan dimenangkan oleh kaum muslim. Tetapi,
karena pasukan pemanah silau akibat harta rampasan perang. Posisinya yang
sebelumnya diambil alih oleh pasukan Quraisy. Sehingga, pasukan muslimin kacau
balau dan mengalami kekalahan.
5. Penduduk Makkah menyambut dengan gagap gempita kemenangan kaum
Quraisy di perang Uhud. Abu Sufyan yang merasa nadzarnya telah terpenuhi
langsung menuju Ka’bah untuk menyampaikan puji syukur kepada dewanya. Penduduk
Makkah menyambut dengan gagap gempita kemenangan kaum Quraisy di perang Uhud.
Abu Sufyan yang merasa nadzarnya telah terpenuhi langsung menuju Ka’bah untuk
menyampaikan puji syukur kepada dewanya. Selain itu, semenjak kaum Muslimin
kalah dalam perang Uhud, keadaan di Madinah mengalami banyak perubahan. Beberapa
pihak yang selama ini merongrong dan berusaha merebut kembali kuasa atas
Madinah, berani merancang dan melakukan langkah-langkah untuk mencemarkan serta
merendahkan Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Al
Husaini, Al Hamid. Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad SAW. Bandung: Pustaka
Hidayah. 2011.
Mufrodi, Ali. Islam
di Kawasan Kebudayaan Arab. Jakarta: Logos Wacana Ilmu. 1997.
Ishaq, Ibnu dan Ibnu Hisyam. Sirah Nabawiyah. Jakarta: AKBAR
MEDIA. 2012.
Haekal,
Muhammad Husain. Sejarah Hidup Muhammad. Mesir: Pustaka Akhlak. 2015.
Al-Azizi, Abdul Syukur. Peradaban
Islam. Jakarta: Saufa. 2014.
[1] . Al Hamid Al
Husaini, Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad Saw, (Bandung: Pustaka
Hidayah, 2011), hlm. 671.
[2] . Ibid., hlm.
672.
[3] . Ibid., hlm.
673.
[4] . Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, (Jakarta:
Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm. 31.
[5] . Ibnu Ishaq
dan Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah, (Jakarta: AKBAR MEDIA, 2012), hlm.
486.
[6] . Ibid., hlm.
487.
[7] . Ibid., hlm.
487.
[8] . Muhammad
Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, (Mesir: Pustaka Akhlak, 2015),
hlm. 435-436.
[9] . Ibid., hlm.
436.
[10] . Ibid., hlm.
437.
[11] . Ibid., hlm.
438.
[12] . Abdul Syukur
al-Azizi, Peradaban Islam, (Jakarta: Saufa, 2014), hlm. 48.
[13] . Al Hamid Al
Husaini, Riwayat Kehidupan Nabi Besar Muhammad SAW, (Bandung: Pustaka
Hidayah, 2011), hlm. 678.
[14] . Ibid., hlm.
681.
[15] . Muhammad
Husain Haekal, Sejarah Hidup Muhammad, (Mesir: Pustaka Akhlak, 2015),
hlm. 461.
kunjungi blog yang ini juga ya..
BalasHapushttp://katahatisibungateratai.blogspot.co.id/2018/01/coloteh-malam-si-bunga-teratai.html